Awalnya Termiskin Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu Tertinggi di Sumatera

BENGKULU ,IN _Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2020 terkontraksi hingga -0,48 persen. Meski begitu, dibandingkan Provinsi lain di Sumatera, daerah ini menempati urutan pertama dengan capaian penurunan pertumbuhan ekonomi paling sedikit.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Ir Win Rizal ME mengatakan, seluruh provinsi di Sumatera, pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi. Dimana kontraksi paling tinggi terjadi di Kepulauan Riau sebesar -6,66 persen dan terendah di Provinsi Bengkulu sebesar -0,48 persen.

“Seluruh Provinsi di Sumatera pertumbuhan ekonominya mengalami penurunan, meski begitu pertumbuhan ekonomi tercatat mengalami penurunan paling sedikit,” ujar Win.

Ia mengaku, jika dibandingkan dengan triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan II 2020 ini mengalami kontraksi cukup dalam. Dimana pada triwulan sebelumnya daerah ini masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi hingga 3,82 persen.

“Kalau dibandingkan triwulan sebelumnya jelas ini sangat dalam penurunannya,” jelas Win.

Ia mengaku, penyebab pertumbuhan ekonomi Bengkulu mengalami kontraksi dikarenakan banyak sektor di daerah yang lumpuh akibat pandemi Covid-19. Sehingga membuat perekonomian di daerah tidak dapat bergerak.

“Ini semua adalah karena Covid-19, sektor usaha banyak yang lumpuh,” tuturnya.

Ia berharap, ada upaya dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota untuk mendorong perekonomian daerah agar kembali tumbuh. Pasalnya jika upaya dari pemerintah tidak dilakukan maka dikhawatirkan kontraksi akan kembali berlanjut pada triwulan III 2020.

“Ekonomi Bengkulu itu bisa kembali tumbuh kalau konsumsi pemerintah dan masyarakat kembali ditingkatkan, oleh sebab itu pemerintah harus segera melakukan hal tersebut,” tutupnya.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Rifat Pasha mengaku, perekonomian Bengkulu pada triwulan II 2020 mengalami penurunan disebabkan oleh tersendatnya perekonomian akibat pengurangan aktivitas ekonomi dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Tidak hanya di Bengkulu, bahkan perekonomian nasional juga mengalami kontraksi hingga -5,32 persen,” kata Rifat.

Meski begitu, Rifat melihat kalau pada bulan Juni 2020 lalu, perekonomian sudah mulai menunjukkan geliatnya, meski belum kembali ke level pra Covid-19. Hal ini seiring dengan adanya relaksasi pembatasan aktivitas. Selain itu, Ia juga menjabarkan beberapa indikator yang menahan penurunan perekonomian di kuartal II-2020, seperti peningkatan penjualan ritel secara bulanan, peningkatan aktivitas manufaktur, peningkatan ekspektasi konsumen, dan lain-lain.

“Kami optimistis kalau pertumbuhan ekonomi triwulan III akan semakin baik dengan kecepatan stimulus fiskal, kemajuan restrukturisasi kredit, dan pemanfaatan digitalisasi teknologi termasuk dalam UMKM,” tutupnya.(red)

Data Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera

Provinsi Pertumbuhan

Kepri -6,66
Babel -4,98
Sumbar -4,91
Lampung -3,57
Riau -3,22
Sumut -2,37
Aceh -1,82
Jambi -1,72
Sumsel -1,37
Bengkulu -0,48