Dr. Mesterjon: Virus Corona Adalah Peluang Usaha Bukan Hal Menakutkan

Bengkulu, In- Dosen Senior di salah satu perguruan tinggi swasta Provinsi Bengkulu ini tanpak perbeda cara pikir menghadapi virus corona (Covid-19).

Dia Dr. Mesterjon, Salah satu dosen di Universitas Dehasen Bengkulu yang pernah menjadi dosen Saya dan menjadi rekan kerja saya di Universitas Dehasen Bengkulu (UNIVED) sebagai tenaga pendidik (Dosen).

Di tengah-tengah kepanikan masyarakat bengkulu bahkan masyarakat dunia yang dilanda wabah penyakit berbahaya virus corona (covid-19) ia mengapresiasi rekan jurnalis yang ikut berjuang menyampaikan informasi terkait perkembangan Covid 19 baik lokal, regional nasional dan internasionla.

Namun ia menyanyangkan belum ada terlihat media baik ekonom yang bicara soal bagaimana mendorong kemajuan ekonomi masyarakat saat warga diharuskan diam dirumah.

“Hampir menyeluruh media, baik cetak, elektronik dan online ikut aktif berkontribusi dalam menyampaikan informasi terkait Covid 19. Namun disayangkan hanya membicarakan penyebab, cara penularan, cara Penanganan dan lain-lain. Belum ada yang bicara memberikan pengetahuan kepada masyarakat bagaimana caranya memperoleh rejeki meski hanya diam dirumah” Ungkap Mesterjon. Jum’at malam 10 April 2020.

Ditambahkan Mesterjon, “Momentum Covid-19 mewabah saat tepat merestrukturisasi usaha kecil, mikro, messo dan makro menjadi bebasis Teknologi Informasi” Jelas Mesterjon.

“Karena semua orang dianjurkan oleh pemerintah diam di rumah, sementara kebutuhan dasar manusia harus dipenuhi speeti bahan pokok: Makanan dan minuman” Jelas Mesterjon Kembali.

Selanjutnya Dr. Mesterjon memguraikan contoh cara merubah mendapatkan penghasilkan dari konpensional menjadi berbasis Teknologi Informasi.

“ 1. Warung makan harus mulai membagi tugas karyawannya misal yang biasa mennyajikan makanan di ubah tugasnya dengan membuat sosial media yang mennyajikan semua menu masakan, yang biasa angkat barang di ubah dengan tugas mengantar pesanan kerumah, bendahara yang biasa terima uang di ubah tugasnya sebelum masakan di masak sudah tau siapa saja yang pesan sehingga masakan yang dimasak sesui pesanan. Maka dengan konsep ini rumah makan tetap memiliki omset dan dengan sendirinya telah mengubah pola pelayanan.

2. Warung klontong yang bisanya hannya tunggu pembeli datang, maka harus mengubah tugas pennyusun barang untuk buat sosial media yang mennyajikan semua kebutuhan rumah tangga, yang biasa angkat barang di ubah tigas antar pesanan kerumah, Maka dengan demikian warung klontong telah mengubah platform segmen pembelinya dan tetap memiliki omset penjualan.

3. Pangkas rambut harus memulai penawaran melalui sosial media dengan buka 24 jam dan disertakan dengan gambar tukang pangkas yang lengkap dengan pralatan APD,..insyaallah saya yang pertama akan datang pangkas rambut karena telah 30 hari dirumah maka perlu pangkas rambut, dengan demikian omset pangkas rambut tetap tumbuh.

4. Pedagang sayuran, buabuahan, pedagang ikan, pedagang kaki lima..minta bantu kepada anak atau siapa buatkan sosial media lalu tawarkan semua dagangan, ubah tugas yang biasa jual kepasar di ubah tugasnya antar pesanan kerumah, maka dengan demikian omset penjualan tetap tumbuh.

5. Penjahit yang biasa menjahit pakaian, harus mulai memproduksi masker dan pralatan lain yang di butuhkan saat covid 19 ini, lalu buatkan sosial media tawarkan semua produk dan antar kerumah.

6. Tukang ojol harus mulai bekerjasama dengan, warug, makan, warung klontong, pedangang sayur dll untuk dapat bekerjasama sebagai kurir pengantar pesanan, maka dengan demikian OJOL tetap memiliki omset”
“Kita harus merobah cara pandang virus corona (Covid-19) bukanlah suatu yang menakutkan Tetapi suatu peluang” Tutup Mesterjon.(Roni Marzuki)