Dukung Revolusi Mental, Yayasan Bina Insani Persaudaraan Gelar Seminar dan Aksi Gotong Royong

IN – Kota Bengkulu – Revolusi mental merupakan salah satu core kebijakan Pemerintahan Jokowi-Maaruf dalam mengusung visi besar Indonesia Maju. Melalui Kementrian PMK visi itu diterjemahkan melaui berbagai macam cara diantarnya menggendeng komunitas dan organisasi kemasyarakatan untuk mendukung suksesi revolusi mental. Yayasan Bina Insansi Persaudaraan (YBIP) adalah salah satu organisasi mitra PMK dalam mewujudkan upaya itu.

Selasa, 30 November 2021 bertempat di Splash Hotel Kota Bengkulu, YBIP menggelar seminar bertema “Gotong Royong Membangun Revolusi Mental dan Pendidikan Berkarakter Anak Bangsa Demi Terciptanya Indonesia Berkemajuan”. Seminar ini menghadirkan 3 orang narasumber yaitu; Dr. Rahiman Dani, MA Dosen Pasca Sarjana Universitas Hazairin, Nadi Hariansyah Ketua PWPM Bengkulu, dan Sutanpri, M.Pd Kepala Sekolah SMA 4 Muhammadiyah Kota Bengkulu.

“Visi besar Revolusi mental adalah tanggungjawab bersama dan kami tampil untuk mengambil tanggungjawab itu. Kami berharap melalui kegiatan ini sinergi terutama di kalangan pelajar, mahasiswa, pemuda dan masyarakat secara luas dapat terwujud dalam mendukung dan mengaplikaskan revolusi mental yang diusung pemerintah” kata Muhammad Khubbab Fairus, Ketua Yayasan Bina Insani Persaudaraan.

Revolusi Mental telah digaungkan oleh Sang Proklamator Seokarno. Ini berangkat dari kegelisahan Soekarno akan mental anak bangsa yang kian surut pasca revolusi. Untuk itulah mental anak bangsa harus senantiasa diasa agar semangat nasionalisme terus berkobar. Filosofi ini kemudian di-upgarde oleh presiden Jokowi. Semangatanya sama, agar kesadaran anak bangsa kembali pada khitahnya.

“Mental adalah modal dasar dan modal awal dalam mengsung sebuah pembangunan. Kita tahu bangsa-bangsa hebat selalu didahuli dengan manusianya yang disiplin, mental mereka yang baik. Pembangunan mental akan selalu inheren dengan terwujudnya sebuah pembangunan yang sukses. Sebaliknya tidak ada pembangunan tanpa mental anak bangsa yang tertata dengan rapi. Untuk itu penting bagi kita untuk mengbalikan platform pembangunan pada penataan mental terlebihdahulu sebelum kita berbicara pembangunan fisik, budgeting, dan kebijakan” kata Dr. Rahiman Dani.

Kemudian lanjut Rahiman, revolusi mental yang diusung pemrintah haruslah dibarengi dengan kebijakan yang akomodatif sehingga tidak bias arah. Artinya pemerintah melalui kekuasaannya harus menterjemahkan revoluai mental bukan hanya dalam tataran ide dan kampanye melainkan dalam bentuk yang lebih aplikatif seperti regulasi dan politik anggaran.

“Yang tidak kala penting pejabat publik harus mendahului masyarakat dalam merevolusi mental dirinya sendiri, sikap dan kenegarawanan. Jangan sampai semakin keras gaung revolusi mental semakin banyak pula pejabat yang ditangkap karena korupsi. Ini akan mendegradasi semangat revolusi mental di tengah-tengah masyarakat” papar pengampu mata kuliah ilmu politik itu.

Sementara Nadi Hariansyah dalam paparannya menekankan pada aspek pemberdayaan dan kolaborasi. Menurut aktifis muda muhammadiyah itu, peran komunitas, mahasiswa dan pelajar akan menjadi barometer visi besar revolusi mental menjadi sukses.

“Saya pikir ini bukan pekerjaan teoritis yang kemudian habis dalam ruang diskusi. Eksekusi dan aksi akan lebih penting dan pemerintah tidak mungkin kerja sendiri. Masyarakat harus ditempatkan sebagai leader, harus menjadi garda terdepan dalam mengkapampanyekan revolusi mental” papar dia.

Sutanpri Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 4 Kota Bengkulu yang juga tampil sebagai pembicara dalam seminar itu mengatakan, fondasi revolusi mental adalah keluarga (orang tua) dan lingkup yang lebih luas sekolah. Selanjutnya daya dukung masyarakat dan kebijakan pemerintah sebagai regulator.

“Jauh sebelum itu sudah menerapkan filosofi dari revolusi mental. Di sekolah kami tidak ada papan merk tempat buang sampah atau waktu sholat, tempat parkir, itu sudah otomatis. Tentu kami sangat mendukung upaya pemerintah melalui Kemenko PMK menggalakan kembali revolusi mental. Konsepsinya begini, membangun sebuah gedung itu mudah tapi membangun manusai itu pekerjaan susah” kata Sutanpri. (SDK)