Fakta MeNarik DaNau Dendam oleh Roni Marzuki

Tidak ada komentar 142 views

Sejuknya udara yang diiringi dengan suara angin lewat dan deburan ombak kecil menusuk hati, terlebih lagi terdengar suara burung berkicau disekitar daratan danau dendam Senin 11 Maret 2019. Tempat ini adalah pilihan yang cocok untuk menghibur hati, menghilangkan stress apalagi penat.

Mungkin bagi anda danau dendam tak suda biasa-biasa saja. Namun ternyata danau ini memiliki banyak daya tarik sendiri jika benar-benar digali.

Danau yang dikelilingi tetumbuhan hijau ini awal mulanya masuk ke dalam wilayah Kota Curup Bengkulu Utara. Namun setelah Bengkulu berkembang dan Menjadi Provinsi Danau Dendam Tak Suda masuk kedalam wilayah Kota Bengkulu kira-kira 6 KM dari pusat kota.

Luas wilayah awalnya sekitar 3750 Hektar dan sekarang suda beberapa kali mengalami perubahan. Menurut laman Indonesia.Travel, pada perluasan pertama tahun 1936, Pemerintah Hindia Belanda menetapkannya sebagai cagar alam dengan total luas 11,5 hektare. Kemudian pada tahun 1979, kawasan cagar alam dipeluas lagi menjadi 430 hektare. Sehingga pada tahun 1999, luas kawasan menjadi 577 hektare.

Di tahun 2019 ini Pemerintah Provinsi Bengkulu berencana Danau dendam akan dikembangkan. Pengembangan danau ini nantinya pemindahan dari kawasan cagar alam menjadi wisata konservasi. Gubernur Bengkulu Dr. Rohindin Mersyah, MM sangat oftimis 2020 ini pengembangan danau ini suda selesai. Hal ini disampaikannya saat rapat awal koordinasi dengan seluruh pihak terkait di secretariat pengiat seni dan Kearipan Loka Berendo Tobo Kito

Di balik nama uniknya danau dendam terdapat beberapa versi yaitu: Versi  legenda dan Sejarah. Dari Versi legenda di mana sepasang kekasih tidak direstui orangtua. Sepasang kekasih yang dimabuk asmara itu kemudian dikisahkan bunuh diri ke danau dan inilah yang menjadikannya disebut Danau Dendam Tak Sudah.

Konon, sejak saat itu ada dua ekor lintah raksasa yang merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut. Kisah kedua berlatar sejarah di mana Belanda yang saat itu menduduki Indonesia memutuskan membuat dam di danau ini. Tujuannya, agar air danau tidak mudah meluap untuk mempermudah pembangunan jalan di sekitar danau.
Akan tetapi, pada praktiknya, pembangunan dam terhenti atau tidak pernah selesai. “Dam Tak Sudah” begitu mereka menyebutnya. Entah bagaimana awalnya “Dam Tak Sudah” kini berubah menjadi “Dendam Tak Sudah”.

Danau ini merupakan habitat bagi beberapa jenis ikan langka berasal dari famili Anabantidae, Bagridae, dan Cyprinidae. Selain itu, di danau ini terdapat habitat tumbuhan endemik langka, yaitu anggrek pensil (Vanda hookeriana).

Danau Dendam Tak Suda

Angrek pensil

Angrek pensil adalah tumbuhan langkah berasal dari sumatra. Bengkulu, selain memiliki tumbuhan langkah bunga bangkai (Raflesia) juga memiliki bunga angrek pensil. Tapi sayang agrek pensil belum sepopuler bunga raflesia. Padahal ingris sempat menobatkan bunga ini sebagai ratu angrek dengan memberikan serivikat Pada Tahun 1982.

Awal mulanya bunga langkah ini ditemui di cagar alam dusun besar Bengkulu atau dikenal Danau Dendam Tak Suda. Tumbuhan ini hidup menumpang pada tumbuhan bakung yang hidup di permukaan air.

Namun, akibat ulah tangan manusia populasi tumbuhan bakung rusak akibatnya adalah populasi angrek pensilpun menjadi rusak. Said Jauhari, Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu kejayaan angrek pensil ada pada dekade 1970 an. Dokumentasi Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan populasi yang tinggi dari anggrek tersebut dan serentak memunculkan bunga pada masanya.

Namun, seperti spesies langka lainnya di tanah air, eksploitasi membuat populasi menyusut drastis dan sejak awal 1990-an, Anggrek Pensil mulai langka. Kondisi yang semakin terancam punah itu membuat BKSDA Bengkulu berupaya untuk melakukan perbanyakan dan melepasliarkan kembali ke danau pada 2007 dan 2008. Di ambil dari https://www.greeners.co/berita/anggrek-pensil-hampir-punah-di-rumahnya-sendiri/

Salah satu warga dusun besar mengaku saat ini sulit untuk melihat langsung bunga ini dikarenakan medan yang tidak bersahabat untuk dilalui. Banyaknya pengemar bunga ini adalah salah satu bukti bahwa pendukung pengembangan objek wisata danau dendam tak suda. Melestarikan bunga angrek yang harum semerbak dan pesonanya mampu bertahan selama 22 hari ini tentu dapat menjadikan danau dendam wisata Khusus Angrek pensil.

Bunga Angrek Pensil

Bunga Angrek Pensil

Keturi

Keturi adalah budaya khas masyarakat Kota Bengkulu yang bercocok tanam padi di sekitar wilayah danau dendam tak suda.

Setelah selesai panen padi, warga secara beramai-ramai mendatangi danau dendam untuk melaksanakan hajatan do’a shukuran atas limpahan rizki yang dikaruniakan tuhan kepadanya.

Hal menarik dari moment ini adalah warga mengundang ustat untuk memimpin do’a. Acara do,apun dilaksanakan Di Atas permukaan air danau dendam tak suda dengan menggunakan satu perahu untuk satu sampai tiga orang warga.

Masing-masing perahu warga membentuk lingkaran di permukaan air. Setelah warga berkumpul dan perahu telah membentuk lingkaran ketua adat terlebih dahulu memberikan sambutan lalu memintak ustat untuk membacakan do’a.

Jika dilihat dari atas atau dari kejauhan moment ini sangat indah dan unik, hal ini dikarenakan lingkaran perahu-perahu tampak seperti saling memperkuat ikatan emosional, kebersamaan dan kerukunan sesama umat manusia, alam dan tuhan. Keindahan pesonanya diperkuat juga dengan warna khas pantulan cahaya yang menghiyasi lingkaran tersebud.

Meminjam kata bang suryadi (penggiat seni dan kearipan lokal) ketua komunitas berendo tobo kito “acara ini sirik atau tidak tergantung sudut padang mana yang melihat, namun ini adalah seni dan budaya kearipan lokal yang harus dipertahankan dan dikembangkan”.

Di pikir ada benarnya pendapat beliau. Seperti halnya dengan tabot digelar, tabot dalam sudut pandang sederhana sebuah ungkapan shukur yang disampaikan melalui seni dan budaya. Hal lain misalny: wayang, jaranan dan lain-lain. Semuanya bermaksud menyampaikan pesan moral, nasehat, ungkapan shukur dan atau bisa jadi menyebarkan syariat melalui seni dan budaya.

Sama halnya dengan keturi, keturi ini dilaksanakan untuk menyampaikan terimah kasih kepada alam dan tuhan yang telah memberikan nikmat air sebagai sumber pengairan sawah-sawah milik petani. Artinya warga telah menyadari bahwa ada hubungan baik dan tidak terpisahkan antara manusia dan manusia, manusia dan alam serta manusia dan tuhan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita mempertahankan dan menggali serta mengembangkan kearipan lokal yang merupakan aset bangsa ini memiliki nilai jual tinggi (Roni Marzuki)