Ibuku Melawan Iblis Merah Demi Kelahiranku

Tidak ada komentar 133 views

Telah terbit di: line today, 06.00/05/05/2019 Oleh Rudi Meita

Namaku Fatma. Aku lahir di pelosok Sumatera yang mayoritas penduduknya para transmigran dari Jawa. Kami masih memakai bahasa Jawa yang kasar dan tidak mengenal krama inggil. Sejak lahir aku sudah mengalami hal-hal di luar logika manusia. Katanya karena simbahku termasuk orang sakti di desa kami, begitu juga dengan bapakku.

Kalau simbah ilmunya dikenal dengan ilmu putih sementara bapakku justru lebih mendalami ilmu hitam. Yah, bapakku memang bajingan sejati. Mungkin kalian menganggapku anak durhaka karena mengatai bapakku sendiri bajingan. Tapi faktanya memang demikian. Sepanjang hidupku aku hanya melihat banyak orang terluka karenanya.

Simbahku rajin sekali tirakat. Puasa sudah jadi kebiasaan yang tidak boleh ditinggal. Ilmunya lebih banyak digunakan untuk membantu orang. Di desaku ada sebuah pabrik pengolahan karet. Saat panen ada banyak sekali karet mentah yang siap olah. Pada suatu malam pabrik digeruduk perampok. Semua hasil panen diangkut beserta mesin-mesin yang harganya sangat mahal, dan dua truk. Mereka merusak gembok, menyekap penjaga lalu menggasak isi pabrik.

Si pemilik pabrik meminta tolong pada simbah dan simbah hanya menanggapinya dengan senyum. Malamnya simbah duduk-duduk di depan pabrik sambil merokok. Tidak ada hal istimewa yang dilakukannya. Dia hanya minum kopi, merokok, dan jagongan dengan para penjaga. Tidak ada keganjilan sama sekali kecuali dengan pakaian mbah yang serba putih.

Para penjaga sudah mulai mengantuk dan simbah menyuruh mereka tidur. Mereka menurut toh pabrik itu sudah dirampok tidak ada lagi yang bisa mereka jaga.

Keesokan paginya para penjaga terbangun dan mendapati pintu pabrik terbuka. Semua hasil rampokan sudah kembali ke asalnya, tertata rapi, bahkan perampok itu mengganti gembok yang mereka rusak. Para penjaga menjadi kaget, mereka tidak tahu bagaiman semua bisa kembali seperti semula.

Semalam mereka sama sekali tidak mendengar apa-apa. Seharusnya mereka pasti tahu jika perampok itu kembali untuk mengembalikan rampasannya. Barang-barang yang mereka ambil adalah barang berat. Bagaimana mungkin para penjaga tidak mendengar apa-apa. Satu-satunya yang masih terjaga semalam hanyalah simbah.

Namun setiap simbah ditanya apa yang terjadi dia hanya tersenyum sambil berkata,”Jika Allah tidak mengijinkan maka semua akan kembali.”
Sejak saat itu kesaktian simbah benar-benar diakui. Semua orang hormat padanya. Setiap bulan simbah tidak lagi memikirkan masalah perut sebab pabrik itu selalu menjatahnya dengan beras sekarung, minyak, dan gula.

Usaha simbah juga menjadi sangat lancar. Tanahnya di mana-mana dan semuanya menghasilkan. Simbah menjadi sangat kaya. Sayangnya simbah terlalu memanjakan semua anak-anaknya terutama bapakku. Simbah lebih sayang pada bapak karena dia lebih cepat menguasai semua ilmu yang diturunkan padanya.

Setinggi apapun ilmu jika digunakan untuk hal sesat hanya akan mengundang bahaya. Bapakku tidak ingin repot bekerja. Dia menggunakan ilmunya untuk kejahatan. Pernah dia membobol rumah tanpa ketahuan oleh pemiliknya, seakan pemiliknya tidak merasa kehilangan apa-apa padahal bapakku membawa satu tas berisi uang.

Namun bapakku sedikit khawatir sehingga dia menyuruh ibuku menguburnya bersama uang itu selama 40 hari. Anehnya bapakku tetap hidup. Entah ilmu apa yang membuatnya bisa seperti itu, yang jelas dia bersekutu dengan iblis.

Lalu apakah bapakku jadi kaya dengan uang satu tas itu? TIdak. Dia menghambur-hamburkannya untuk judi dan main perempuan padahal ibuku sedang mengandung bahkan tinggal menghitung hari. Seminggu sebelum aku lahir ibuku bermimpi seorang perempuan cantik berbaju merah datang bertamu di rumah. Dia berkata dengan suara yang sangat lembut,”Anak yang akan kamu lahirkan nanti adalah seorang bayi perempuan. Suamimu sudah menyerahkannya padaku. Aku ke sini untuk mengambilnya.”

Ibuku langsung menolaknya,”Tidak, sampai mati aku tidak akan menyerahkan anakku pada siapapun.”
Perempuan itu hanya tersenyum lalu undur diri. Gerakannya begitu gemulai, lembut, bahkan kersik kain baju yang dipakainya sama sekali senyap. Langkah kakinya juga bisu seakan dia sama sekai tidak melangkah melainkan melayang. Setiap gerakan seperti menyemprotkan wangi bunga kanthil yang tajam. Saat sampai di ujung jalan pelan-pelan dia menoleh memamerkan wajah cantiknya yang masih tersenyum. Warna merah gaunnya menjadi sangat menyolok di hari yang mendung.

Dia masih memandang ke arah ibuku namun senyumnya menyusut dan matanya mengilat tajam. Dia mengacungkan tangannya seakan ingin mencengkeram.
Ibuku terbangun dari mimpinya. Dia yakin mimpi tadi adalah pertanda. Hatinya menjadi gelisah. Setiap saat tangannya selalu mengelus perutnya seakan tidak rela bayinya akan diambil. Perempuan itu tidak sekadar kembang mimpi. Dia jelas-jelas sebuah ancaman.

Naluri ibuku selalu mengatakan dia harus melakukan sesuatu. Dia berusaha mencari bapak untuk meminta solusi dari masalah itu.Sayangnya bapak seperti hilang ditelan bumi. Ada gosip merebak dia mengawini anak perawan di desa seberang. Ibuku semakin kalut lalu datang ke rumah simbah dan menceritakan semuanya.

“Bayimu itu memang bukan bayi biasa. Dia membawa sesuatu yang pernah menjadi milik perempuan itu dan dipinjam oleh suamimu. Dia ingin mengambilnya kembali sebab dia sudah meloloskan keinginan suamimu. Dia bisa saja langsung merampasnya namun bayimu pasti mati. Perempuan itu ternyata sangat menyukai bayimu. Dia memutuskan untuk mengambil bayimu juga. Jadi jika bayi itu sudah berada di tangan perempuan itu, rahimmu akan kosong.”

“Maksud Bapak, bayiku akan hilang?”
Simbah mengangguk, air mukanya tampak sangat keruh,”Seharusnya aku mendidik anak-anakku dengan lebih baik. Sekarang rasanya semua sudah terlambat.”
“Bapak, apapun kulakuan demi bayiku. Aku tidak rela anakku diambil.”
“Yang bisa kita lakukan hanya berdoa.

Berpuasalah dan berzikirlah. Hanya itu yang bisa kamu lakukan. Setelahnya keputusan berada di tangan Gusti Allah.”
Ibuku pulang ke rumah dengan hati hancur. Dia segera melakukan apa yang dianjurkan simbah. Selama tujuh hari ibuku berpuasa dan berzikir tanpa lelah. Kekuatannya sebagai seorang ibu dan nalurinya membuatnya tidak tampak lemah meski dia berpuasa. Orang-orang di sekitarnya menyuruh ibuku untuk berhenti sebab ibuku butuh tenaga untuk melahirkan.

Namun ibuku hanya diam. Dia tidak menceritakan alasan kenapa dia berpuasa kepada siapapun.
Malam sebelum aku lahir ibuku berzikir sampai lelah. Dia merasakan nyeri di perutnya. Kontraksi mulai datang. Tetanggaku memanggil dukun anak ke rumah. Desa kami jauh dari rumah sakit sehingga kami lebih suka melahirkan dibantu dukun anak. Itupun tetanggaku harus menjemputnya dan memerlukan waktu lama.

Ibuku semakin kesakitan. Antara sadar dan tidak dia melihat perempuan itu datang kembali. Pakaiannya masih merah dan senyumnya masih menawan.
“Sudah waktunya. Serahkan anakmu.”
“Tidak, aku tidak akan menyerahkannya.”

Perempuan itu menjentikkan tangannya dan dari punggungnya muncul dua ular besar berwarna sangat indah: biru, kuning, dan kepalanya didominasi warna merah. Ular itu menatap ibuku dengan mengancam. Kepalanya mendekat pada perut ibuku yang gemetaran. Secara spontan ibuku mengucapkan zikir keras-keras. Ular itu meliuk-liuk marah. Perempuan merah itu mengeluarkan busur dengan mata panah berbentuk bunga ungu mekar. Suara ibuku semakin kencang. Perempuan itu melepaskan anak panah itu dan tiba-tiba terpental jauh.
“Enyahlah!” seru ibuku.
Seorang dukun bayi ditemani tetanggaku masuk ke kamar.
“Dia sangat kesakitan,” seru tetanggaku yang sama sekali tidak melihat ular dan perempuan itu.
“Siapkan air panas dan kain.”
Dukun bayi segera bersiap. Dia menyuruh ibuku mengangkang.
“Jangan angkat bokongmu saat mengejan. Sekarang!”
Ibuku mengejan dengan sekuat tenaga. Ular-ular itu menyusut di balik punggung perempuan merah.
“Sudah keluar kepalanya. Ayo sekarang!”
Perempuan merah menatap ibuku dengan tajam dia mengeluarkan lagi anak panah dengan mata panah bunga ungu. Ibuku mengejan sambil berteriak.

“Demi Allah, jangan ambil anakku!”
Anak panah terlepas dan sekali lagi terpental sebelum mengenai ibuku. Perempuan merah menjadi geram. Saat suara tangisan bayi terdengar dia dan ular-ularnya hilang.
“Bayinya perempuan!” seru dukun itu.
Ibuku bernapas lega. Airmatanya mengalir. Perang telah usai dan aku sudah dimenangkan lewat doa seorang ibu.

“Siapa namanya?” tanya dukun itu saat menaruhku yang sudah dibersihkan dan dibedong rapi di sisi ibuku.
“Namanya Fatma.”
Ya namaku Fatma dan kisahku baru saja dimulai.

Ruwi Meita, penulis horor dan misteri yang sudah melahirkan novel Misteri Bilik Korek Api, Alias, Misteri Patung Garam, Carmine, dan sedang menggarap Bitter Suga.
Fanpage : https://www.facebook.com/ruwimei/
Facebook : https://www.facebook.com/ruwi.meita
Instagram : @ruwimeita @bitter___suga