Kerap di Rambah, Hutan Lindung di Bengkulu Selatan Terancam

BengkuluSelatan,in — Banyak pengamat lingkungan hidup menilai, patroli dan tracking yang diklaim sering dilakukan Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit V Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu di wilayah hutan Kabupaten Bengkulu Selatan hanya sebatas retorika.

Penilaian tersebut berlandaskan pengamatan lapangan tiga bulan terakhir, yakni masih banyaknya kendaraan kecil pengangkut kayu olahan dari arah Desa Sukarami (Kecamatan Air Nipis) dan sekitarnya —berbatasan langsung kawasan hutan produksi dan hutan lindung— menuju ibukota kabupaten.

Pengangkutan itu terjadi hampir setiap menjelang tengah malam, menggunakan dua hingga tiga armada pickup. “Saya kurang yakin patroli itu benar-benar dilakukan untuk menertibkan atau minimal membuat segan pelaku. Mungkin cuma basa-basi melintas dengan mobil patroli 3-4 kali sebulan. Sisanya, parkir di kantor sambil main domino,” ujar salah satu warga Seginim.

Dia meminta, KPHL menjalankan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) dengan benar dan bertanggungjawab. Sebab, mustahil benda sebesar itu tidak terpantau, minimal di depot-depot penampungan kayu yang patut diragukan legalitasnya.

Dari Pantauan , belakangan pengangkutan kayu olahan hasil perambahan hutan juga dilakukan siang hari, dengan dalih diperuntukkan pengerjaan proyek pemerintah. Salah satu pengemudi pickup saat diminta menunjukkan dokumen terkait muatan yang dibawanya, bersikap tidak kooperatif.

Hingga berita ini dipublis, Kepala KPHL Unit V yang berkantor di Jalan Pangeran Duayu, Kelurahan Padang Sialang, Kecamatan Pasar Manna, masih dalam upaya dikonfirmasi.(**)