LSM LPKRI AKAN LAPORKAN DUGAAN KORUPSI PROYEK TEBAT GELUMPAI

INDEPENDENT NUSANTARA B-S – Berdasarkan hasil informasi yang di dapat oleh awak MEDIA Independent Nusantara, nara sumber membenarkan bahwa pohon – pohon rumbia dan beberapa batang pohon yang masih bergelimpangan di lokasi proyek Tebat Gelumpai tersebut masih berserakan, tidak dibuang tetapi langsung di timbun dengan tanah. Semua terindikasi dikerjakan asal jadi untuk memperoleh keuntungan yang besar

“Berarti proyek Tebat Gelumpai yang dilaksanakan  Dinas PU Balai Sumatera Tujuh Provinsi Bengkulu terkesan kurang pengawasan benar – benar di kerjakan asal jadi, jadi kualitas fisik proyek tersebut sangat diragukan kualitas dan kuantitasnya,” jelas Sadikin Ketua LSM LPKRI  “ini Perlu di usut Penegak Hukum, terkait dugaan korupsi, pekerjaan proyek Revitalisasi Situ Tebat Gelumpai Kabupaten Bengkulu Selatan Propinsi Bengkulu, yang dikerjakan PT. Baragalu Tias Jaya di wilayah  Kelurahan Tanjung Mulia dan Desa Batu Lambang Kecamatan Pasar Manna dengan Pagu Dana Rp. 4.286.000.000,- bersumber dari Kementerian PUPR Dirjen SDA Balai Wilayah Sungai Sumatera VII. Ironisnya lagi ada beberapa item yang tidak di laksanakan atau dipatuhi seperti spanduk dan perlindungan para pekerja tidak mematuhi standar keamanan kerja. ” Kalau saya lihat seperti alas besi  sebelum di cor dengan semen,  sangat di ragukan keasliannya, dan barang tersebut di namakan geotexstil, padahal harganya itu kalau menurut di RAB mencapai empat ratus jutah rupiah.  Dugaan saya proyek itu, asal – asalan, makanya saya tau karena saya ikut dalam perebutan lelang proyek Tebat Gelumpai tersebut,” menurut  nara sumber yang ikut proses lelang proyek tersebut, ” padahal dalam pengamatan

awak media independent nusantara kontraktor dengan leluasa berbuat  walaupun ada konsultan pengawasnya seperti pemasangan besi cor dimana jarak cincin besi mencapai 20 cm lebih padahal standarnya 15 cm.  untuk penimbunan jaraknya diduga tidak sesuai dengan juknis yaitu 3 – 5 KM, sedangkan jarak pengambilan tanah timbunan yang dilakukan kontraktor itu hanya 2 KM . Sementara biaya yang dianggarkan untuk penimbunan tanah itu kurang lebih Rp. 366.500. 000,- kemudian untuk tanah galian diduga hanya sebagian dibuang keluar sesuai , sedangkan sebagian lagi dibuang  di lokasi. Sementara biaya untuk pembuangan galian tanah tersebut dianggarkan sebesar Rp. 32.600.000,-. Selanjutnya menurut Sadikin, yaitu pembelian dan pemasangan kain geotekstil yang anggarannya kurang lebih mencapai Rp.439. 000. 000,-diragukan keasliannya.kami akan melaporkan permasalahan ini ke institusi yang berwenang manangani kasus Korupsi, demikian ujar Sadikin saat di hubungi Jurnalis Independent nusantara.

Sd.