Politik Pencitraan Adalah Dimensi Kepalsuan

Tidak ada komentar 233 views

 

Opini

Penulis : Sadikin, AA

IN – Politik pencitraan adalah dimensi kebohongan yang identik dengan  pembenaran untuk membingkai kepalsuannya. Inilah teori politik pencitraan yang keliru dan akan memakan korban yang tidak sedikit selama dekade dari output kekuasaannya. politikus yang masih memainkan peran ini sungguh kejam dan tidak bermoral. sebab politik bermoral mengajarkan untuk menghindari politik pencitraan.

Terkadang menabur janji tebar pesona tidak mengukur kemampuan dan tupoksi pada janji yang berpamrih, naif memang pada saat pemainnya tidak memakai standar jangkauan logika. Sebab akibat dari perbuatannya tak pelak menjadi skenario kekecewaan. Ya, meskipun definisi “politik itu adalah suatu cara untuk mencapai suatu tujuan” tapi hendaknya tetaplah pada proporsional yang mengarah pada logika yang realistis dan bisa ditoleransi. Misal politikus berjanji untuk menggratiskan pajak kendaraan bermotor, apabila terpilih, yang secara logika tidak mungkin terlaksana karena akan bertabrakan dengan peraturan dan regulasi undang undang. Namun pada realisasinya mesti dilaksanakan dengan istilah “pemutihan pajak”. Itu  hanya ganti chasing memutar balik kata  yang cerdik seperti pada dongeng si kancil membohongi buaya.

Bagi politikus, ingkar janji tidak hanya dosa, tetapi melorotnya citra. Ketepatan janji adalah salah satu strategi politik.  Namun, untuk memenuhi strategi itu, terkadang bohong dilakukan. Padahal politik pembohongan kontraproduktif dengan politik pencitraan. Semuanya dibungkus rapi  dengan berbagai pandangan dan argumen yang menina bobokkan  masyarakat hingga terhanyut bahkan terlena dengan sikap responsive sang pemenang. Namun sayang terkadang semua itu hanya lips service belaka. Sang pemenang seolah begitu respect dengan beban dan penderitaan banyak pihak, bahkan sipemegang tongkat acap kali turun gunung untuk terlihat sangat baik dimata rakyat, seperti turun lansung menyelamatkan siswa yang tidak mampu membayar iuran sekolah. Nah momen seperti ini tentu saja seperti angin kecepatan viralnya, sebab geng dari blok politik akan menggorengnya lewat media publis, karena politik itu adalah kepentingan.

Aslinya, politik pencitraan hanyalah  tampilan yang dipoles menarik, pupusnyapun akan seperti angin, terbang seperti butiran debu. Selain   waktu yang akan berbicara, hembusan angin kritis dari rakyat pun bisa menyingkapnya. Meski masih terbungkam diterpa pandemi saat ini.

Memberi angin surga kepada publik sungguh mengasikkan pada momen momen tertentu sungguh mendogkrak popularitas dan membuat mereka  yang awam mengacungkan jempol.  Apalagi pemimpin yang suka membuat gebrakan kontroversial dengan kemampuan beretorika yang lihai, tetapi dalam tatanan implementasi justru mandul dan tak mampu menyelesaikan masalah krusial publik, yang korbannya tetaplah masyarakat.==

Penulis :

Aktivis Bengkulu penggiat anti korupsi